Industri Baja Nasional Tak Khawatir Proteksi Cina

Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Besi dan Baja, Hidayat Triseputro, mengatakan investigasi pemerintah Cina terhadap produk baja Indonesia tidak akan mengganggu ekspor besi dan baja ke negara tersebut.“Kalau tidak salah investigasi untuk produk stainless steel (besi baja),” ujar dia kemarin. Menurut Hidayat, investor produk stainless steel di Indonesia berasal dari Cina.

Asosiasi sudah melakukan verifikasi kepada dua entitas yang diselidiki otoritas Cina, yakni PT Jindal Stainless dan Tsingshan. Jindal, kata dia, mengaku tak mengekspor barang ke Cina. Dalam berkas gugatan yang diajukan ke Kementerian Perdagangan Cina, awal pekan ini, penggugat investigasi, Shanxi Taigang, menyatakan sejak tahun lalu dua pertiga dari baja tahan karat impor berasal dari Indonesia, naik 5 persen dari 2016.

Nilainya kemudian melejit 86 persen pada kuartal pertama tahun ini. Lantaran pasokannya melimpah, harga jual baja impor turun 23 persen menjadi US$ 1.867 per ton pada 2017. Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian RI masih mempelajari gugatan tersebut.

baca juga : http://dixiehistory.org/kelebihan-yang-ada-pada-genset-silent/

Saat ini pemerintah lebih berfokus pada kepastian tarif dan pasar baja dalam negeri di pasar Amerika Serikat. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita bakal melobi pemerintah Amerika Serikat agar tarif bea masuk baja dan aluminium tetap mendapat insentif fiskal program Generalized System of Preferences. “Kenaikan bea masuk tak hanya merugikan Indonesia, tapi juga pelaku usaha yang berisiko menaikkan ongkos produksinya,” kata Enggartiasto.

Komisaris PT Krakatau Steel Tbk, Roy Maningkas, mengatakan tak ada isu terhadap ekspor ke Cina. Menurut dia, permasalahan justru ada pada isu impor, terutama produk baja Cina yang mengambil lebih dari 50 persen pangsa dalam negeri.

Roy mengatakan impor bisa semakin merajalela akibat imbas perang dagang Amerika Serikat-Cina yang sedang panas saat ini. Menurut Roy, situasi bisa semakin buruk setelah Kementerian Perdagangan mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 22 Tahun 2018 yang memudahkan impor bahan baku industri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, impor baja sudah terlihat mengalami kenaikan signifikan. Hingga April 2018, impor baja dan turunannya sudah berada di kisaran 2 juta ton. Sedangkan total impor produk baja pada 2017 mencapai 5,8 juta ton.

Investasi entitas Cina juga bakal semakin besar. Perusahaan baja Hebei Bishi Steel akan segera menggelontorkan dana US$ 2,5 miliar atau senilai Rp 35 triliun di Jawa Tengah. Investasi tersebut meliputi pabrik baja berkapasitas 3 juta ton, batu bara panas (coking coal) berkapasitas 2,4 juta ton, pembangkit listrik berkapasitas 270 megawatt (MW), serta fasilitas pendukung dermaga berkapasitas 100 dead weight tonnage (DWT).

Mitra Hebei Bishi Steel, PT Seafer Kawasan Industri, bakal menyiapkan lahan seluas 700 hektare untuk fasilitas tersebut. “Lahan dan izin sudah kami kantongi,” kata Presiden Direktur PT Saefer, Harry W. Sudarwo. Investasi di Jawa Tengah ini merupakan salah satu proyek percontohan bagi pemerintah Cina dalam kerangka inisiatif Jalur Sutera dan Jalur Maritim Abad ke-21 di Indonesia.